Umika Media – Dalam banyak keluarga, peran ayah dalam keluarga masih sering dianggap pelengkap. Ayah sering diasosiasikan dengan pencari nafkah semata, bukan pendidik atau pendamping emosional.
Padahal, penelitian membuktikan bahwa kehadiran ayah aktif berpengaruh besar pada perkembangan anak. Anak yang dekat dengan ayah cenderung memiliki rasa percaya diri lebih tinggi, prestasi akademik lebih baik, dan risiko kenakalan yang lebih rendah.
Narasi lama yang menjadikan ibu sebagai satu-satunya tokoh sentral pengasuhan anak, kini perlahan mulai ditinggalkan. Sebab, pengasuhan bukan hanya soal memberi makan dan merawat fisik, tapi juga membentuk karakter dan ketangguhan jiwa anak.
1. Ayah Sebagai Role Model Anak Laki-Laki Dan Perempuan
Peran ayah dalam keluarga menjadi sangat penting karena anak sering meniru pola perilaku orang tua. Anak laki-laki belajar bagaimana menjadi pria yang bertanggung jawab, sedangkan anak perempuan belajar bagaimana sosok laki-laki seharusnya memperlakukan perempuan.
Ayah yang menunjukkan kasih sayang dan komunikasi terbuka akan membuat anak lebih mudah mengekspresikan emosi dan membangun hubungan sehat. Sebaliknya, absennya figur ayah dalam pengasuhan dapat memunculkan krisis identitas atau kecemasan sosial.
Tak heran, banyak psikolog menekankan pentingnya keterlibatan ayah dalam keseharian anak, sejak dini hingga remaja. selengkapnya artikel di sini
2. Kehadiran Emosional Ayah Sama Pentingnya dengan Fisik
Bukan hanya hadir secara fisik, peran ayah dalam keluarga juga dituntut hadir secara emosional. Anak membutuhkan rasa aman, dan itu terbentuk ketika ia merasa dicintai, didengar, dan dipahami.
Kehadiran emosional ayah bisa diwujudkan dalam percakapan sederhana sebelum tidur, mendampingi anak belajar, atau menemani bermain. Hal ini membangun koneksi batin yang kuat antara ayah dan anak.
Sebuah studi oleh Harvard menunjukkan bahwa anak-anak yang memiliki ikatan emosional dengan ayah cenderung lebih stabil secara psikologis.[1]
3. Ayah Membentuk Karakter Disiplin dan Tangguh
Peran ayah dalam keluarga juga mencakup pembentukan karakter anak. Ayah memiliki kecenderungan mengajarkan nilai-nilai ketangguhan, kedisiplinan, dan logika.
Bukan berarti ibu tidak mampu mengajarkannya, tetapi kombinasi pendekatan antara ayah dan ibu menjadikan pendidikan karakter anak lebih seimbang.
Misalnya, ketika anak mengalami kegagalan, ayah sering kali mendorong anak untuk bangkit dan belajar dari kesalahan. Ini membentuk growth mindset pada anak, yang kelak membantunya menghadapi tantangan hidup.
4. Dukungan Ayah Membantu Stabilitas Emosional Ibu
Selain berdampak langsung pada anak, peran ayah dalam keluarga juga berpengaruh besar pada stabilitas psikologis ibu. Ayah yang terlibat akan meringankan beban pengasuhan dan menurunkan risiko stres pada ibu.
Ketika ayah mengambil peran aktif, ibu merasa dihargai dan didukung. Ini menciptakan suasana rumah yang harmonis dan penuh cinta. Anak pun tumbuh dalam lingkungan yang sehat secara mental dan emosional.
Statistik: Masih Banyak Ayah yang Absen Dalam Pengasuhan
Menurut data BPS (2023), 63% pengasuhan anak di Indonesia masih didominasi oleh ibu. Sementara itu, hanya 21% ayah yang terlibat aktif dalam kegiatan seperti menemani anak belajar atau bermain secara rutin.[2]
Angka ini menunjukkan bahwa peran ayah dalam keluarga masih belum maksimal. Padahal, negara maju seperti Swedia dan Norwegia sudah menerapkan parental leave untuk ayah, sebagai bentuk pengakuan pentingnya keterlibatan ayah sejak anak lahir.
5. Mengubah Mindset: Ayah Bukan Lagi Figuran
Kini saatnya mengubah pandangan lama. Peran ayah dalam keluarga harus ditempatkan setara dengan ibu dalam urusan pengasuhan. Keterlibatan ayah bukan hanya kebutuhan, tapi juga hak anak.
Pendidikan parenting juga perlu menyasar para ayah. Banyak program parenting hanya melibatkan ibu, padahal ayah juga perlu belajar cara mendidik, mendengarkan, dan mengasuh dengan empati.
Sebagaimana dikatakan Ustaz Salim A. Fillah, “Ayah adalah tiang keluarga. Jika ia roboh, semua ikut goyah”.[3]
Kesimpulan: Saatnya Ayah Kembali Ke Rumah
Sudah saatnya kita menempatkan peran ayah dalam keluarga sebagai bagian utama, bukan pelengkap. Ayah bukan sekadar tulang punggung ekonomi, tapi juga tulang punggung pengasuhan.
Perubahan ini dimulai dari kesadaran. Ayah perlu sadar bahwa anak membutuhkan kehadirannya bukan hanya pada momen besar, tapi juga dalam rutinitas kecil sehari-hari.
Dengan langkah-langkah kecil namun konsisten, ayah bisa menjadi pahlawan nyata di mata anak. Bukan lagi dianggap nomor dua, tapi bagian tak tergantikan dalam membentuk masa depan anak.
Referensi:
[1] Harvard. (2016). Child Psychology and Emotional Bonding. Boston: Harvard University Press. hlm. 112
[2] Badan Pusat Statistik. (2023). Peran Ayah dalam Rumah Tangga di Indonesia. Jakarta: BPS.
[3] Fillah, S.A. (2018). Lapis-lapis Keberkahan. Yogyakarta: Pro-U Media. hlm. 89
