Retorika Nuklir terhadap Gaza: Tanda Bahaya Dunia yang Semakin Membisu

UMIKA.ID, Gaza, Palestina,– Dunia internasional dikejutkan oleh pernyataan kontroversial anggota Kongres AS Randy Fine yang menyerukan pemboman nuklir terhadap Jalur Gaza. Pernyataan ini diungkapkan dalam wawancara dengan Fox News dan diunggah di platform media sosialnya. Politikus dari Partai Republik tersebut mengidentifikasi dirinya sebagai “Yahudi Zionis yang bangga” dan menyamakan Gaza dengan Hiroshima dan Nagasaki, dua kota di Jepang yang dihancurkan oleh bom atom AS pada Perang Dunia II.

“Kami tidak menegosiasikan penyerahan diri dengan Jepang. Kami mengebom mereka dua kali dengan senjata nuklir untuk mendapatkan penyerahan tanpa syarat. Kita harus melakukan hal yang sama di sini,” katanya.

Retorika ini mendapat kecaman keras dari berbagai pihak, termasuk Gerakan Perlawanan Islam Hamas. Dalam pernyataannya, Hamas menyebut seruan tersebut sebagai “hasutan terbuka terhadap genosida” dan “pelanggaran terang-terangan terhadap hukum humaniter internasional”.

Dukungan Retoris terhadap Genosida

Pernyataan Fine bukan satu-satunya yang menyulut kecaman. Senator Lindsey Graham juga sebelumnya membandingkan agresi Israel ke Gaza dengan keputusan nuklir Amerika terhadap Jepang. Bahkan dari dalam Israel, Menteri Urusan Yerusalem dan Warisan, Amichai Eliyahu, telah menyuarakan pandangan serupa di masa lalu.

Seruan seperti ini, menurut para pengamat, merupakan bentuk pelanggengan ideologi supremasi dan kebencian, yang menormalisasi kekerasan sistematis terhadap warga sipil. Pernyataan ini juga memperkuat tudingan bahwa terdapat upaya pembenaran genosida terhadap bangsa Palestina, yang telah berlangsung selama berbulan-bulan tanpa intervensi internasional yang tegas.

PBB dan Dunia Internasional Mulai Gerah

Sekretaris Jenderal PBB António Guterres, dalam pernyataannya pada Jumat (24/5/2025), menegaskan bahwa PBB menolak berpartisipasi dalam segala bentuk pelanggaran hukum kemanusiaan di Gaza. Guterres mengkritik keputusan Israel yang mengontrak perusahaan Amerika untuk menyalurkan bantuan, alih-alih mempercayakannya kepada badan PBB.

“Delapan puluh persen wilayah Gaza diklasifikasikan sebagai zona militer oleh Israel, dan tanpa bantuan yang masuk, banyak orang akan mati,” tegasnya.

Seruan serupa juga datang dari pejabat Norwegia dan tokoh Human Rights Watch, yang mempertanyakan kapan Uni Eropa akan bertindak nyata untuk menghentikan kekerasan dan menegakkan hukum internasional.

Gambar Kekejaman Terbaru: Warga Sipil Dibunuh karena Membawa Makanan

Sebuah video yang dirilis baru-baru ini memperlihatkan seorang pemuda Palestina ditembak mati oleh drone Israel saat membawa makanan untuk keluarganya di lingkungan Shuja’iyya, Gaza. Pemuda itu tidak bersenjata, hanya membawa tas kecil. Tubuhnya hancur seketika akibat serangan drone tersebut. Rekaman ini menjadi bukti nyata atas kekejaman tanpa pandang bulu yang terjadi setiap hari di Gaza.

Shuja’iyya merupakan salah satu wilayah yang paling hancur akibat bombardir Israel sejak Oktober 2023. Jalan-jalan yang rusak dan diblokir membuat tim medis sulit menjangkau korban, menambah parah situasi kemanusiaan.

Angka yang Mengejutkan: 175.000 Lebih Korban, 11.000 Hilang

Sejak dimulainya agresi militer Israel pada 7 Oktober 2023, lebih dari 175.000 warga Palestina dilaporkan tewas atau terluka. Mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak. Lebih dari 11.000 orang masih dinyatakan hilang, banyak di antaranya diduga terkubur di bawah reruntuhan.

Kelaparan, kehancuran fasilitas kesehatan, dan terputusnya bantuan menjadikan situasi di Gaza sebagai salah satu bencana kemanusiaan terbesar abad ini.

Kejahatan Tanpa Hukuman?

Seruan untuk menggunakan senjata pemusnah massal dan bukti-bukti genosida terhadap warga sipil belum diiringi dengan langkah hukum internasional yang tegas. Penolakan PBB terhadap keterlibatan dalam rencana ilegal Israel adalah awal yang penting, namun belum cukup. Dunia menanti apakah Mahkamah Pidana Internasional (ICC) dan Dewan Keamanan PBB akan bertindak.

Para pengamat menyatakan bahwa ketidakmampuan komunitas internasional untuk menghentikan atau bahkan secara terbuka mengutuk pernyataan seperti Randy Fine dapat memperparah impunitas Israel dan memperluas cakupan kekerasan terhadap bangsa Palestina.

Penutup: Dunia Harus Memilih Sisi

Konflik Gaza tidak lagi hanya soal geopolitik atau narasi keamanan. Ini adalah krisis kemanusiaan yang menuntut ketegasan moral dan tindakan nyata dari komunitas internasional. Ketika seruan nuklir menjadi bagian dari wacana politik resmi dan pembunuhan warga sipil menjadi rutinitas, dunia berada di persimpangan: diam membisu atau berdiri bersama kemanusiaan.

“Kita sedang menyaksikan bukan hanya kehancuran Gaza, tetapi juga ujian terakhir terhadap hati nurani dunia,” tulis seorang aktivis kemanusiaan di akun media sosialnya.


Catatan Redaksi:

Untuk menjaga integritas informasi, artikel ini merujuk pada berbagai sumber kredibel seperti Fox News, Al Jazeera, Days of Palestine, dan pernyataan resmi dari PBB dan menyadur dari Republika. Pernyataan yang dikutip telah diterjemahkan dan disesuaikan dengan konteks bahasa Indonesia untuk memberikan pemahaman yang utuh kepada pembaca.

More From Author

Waspada Ramalan Zodiak: Ini Pandangan Islam tentang Meramal Nasib

Waspada Makanan Nonhalal Tanpa Label: Kasus Restoran Ayam Goreng Widuran dan Peringatan Bagi Umat Islam

Background Latar 1 Background Latar 2 Background Latar 3 Background Latar 4

Jadwal Sholat

Memuat jadwal...

Categories

Categories