UMIKA.ID, Gaza, Palestina – Dunia sepak bola Palestina kembali berduka. Mantan kapten tim nasional, Suleiman al-Obeid, gugur pada Rabu (6/8/2025) ketika sedang mengantre untuk menerima bantuan makanan di Gaza selatan. Keluarga korban menyatakan, al-Obeid meninggal akibat tembakan tank pasukan Israel yang mengarah ke kerumunan warga sipil di lokasi distribusi bantuan.
Federasi Sepak Bola Palestina mengonfirmasi kabar duka ini dan menyebut insiden tersebut sebagai bagian dari rangkaian kekerasan yang telah merenggut nyawa ratusan atlet di wilayah pendudukan. Sejak Oktober 2023, setidaknya 662 atlet Palestina gugur, sementara lebih dari 280 fasilitas olahraga hancur atau rusak akibat serangan militer, sebagian besar di Jalur Gaza.
Legenda Sepak Bola Palestina
Suleiman al-Obeid dikenal luas sebagai “Pelé-nya Palestina” berkat ketajamannya di lapangan hijau. Sebagai penyerang, ia telah mencetak lebih dari 100 gol dalam karier klub dan membela tim nasional sebanyak 24 kali. Meski perang berkecamuk, ia masih aktif bermain untuk klub lokal, menjadi inspirasi bagi banyak generasi muda.
Bagi warga Gaza, al-Obeid bukan hanya seorang pemain bola, tetapi simbol harapan dan ketangguhan. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam di tengah situasi kemanusiaan yang semakin memburuk.
Tragedi di Titik Bantuan
Menurut keterangan saksi mata, saat kejadian ratusan warga berkumpul di titik distribusi bantuan kemanusiaan untuk mendapatkan makanan. Tembakan dari arah militer Israel kemudian menghantam area tersebut, menewaskan beberapa orang termasuk al-Obeid.
Insiden ini menambah daftar panjang tragedi di Gaza, di mana warga sipil kerap menjadi korban ketika mencoba mengakses bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan. Kondisi blokade dan kerusakan infrastruktur membuat distribusi pangan menjadi sulit dan berisiko.
Sorotan Dunia
Kematian al-Obeid memicu gelombang duka dan kemarahan di berbagai kalangan, termasuk komunitas olahraga internasional. Bintang Liverpool, Mohamed Salah, mengkritik UEFA yang dinilai memberikan penghormatan singkat dan tidak menyebutkan penyebab kematian sang legenda Palestina.
Bagi masyarakat Palestina, kematian sang mantan kapten adalah simbol dari penderitaan yang mereka alami setiap hari di bawah pendudukan. Bagi dunia, ini menjadi pengingat bahwa konflik di Gaza bukan hanya persoalan politik, tetapi juga tragedi kemanusiaan yang merenggut nyawa orang-orang yang pernah mengharumkan nama bangsanya di panggung internasional.
Sumber:
