Godaan Wanita Kepada ‘Ubaid

[nextpage title=”1″ ]Harta, Tahta dan Wanita. Begitulah kira-kira pepatah mengatakannya 3 hal yang menjadi godaan terbesar manusia. Kalimat itu sudah sangat populer di kalangan masyarakat hingga banyak juga yang menjadikan tulisan-tulisan itu di kendaraannya. Baik di motor, mobil maupun truk juga kita sering menemukannya. Bahkan banyak juga yang mengubah kata “wanita” menjadi nama-nama artis wanita atau wanita pujaannya.
Hal itu sangat lumrah, Karena Allah sendiri di dalam firman-Nya menjelaskan bahwa setiap manusia dibekali dengan syahwat terhadap kecintaan kepada wanita dan dunia. Allah berfirman di dalam surat Ali Imron ayat 14 yang berbunyi :

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).

Hati-hati dengan godaan harta, tahta dan wanita! Dari kalimat itu seakan menjadikan 3 serangkai TA (Harta, Tahta, Wanita) tersebut menjadi momok dan berkonotasi negatif. Padahal kenyataannya tidak sedikit karena 3 TA tersebut manusia mendapatkan Ridha Allah, menjadi orang yang selamat dan masuk ke dalam surga-Nya.

Imam Ibnul Jauzi رحمه الله berkata :
“Dahulu ada seorang wanita cantik di kota Makkah yang telah bersuami. Pada suatu hari dia melihat wajahnya di cermin dan dia terkagum-kagum dengan kecantikan dirinya.

Maka dia pun berkata kepada suaminya : “Menurutmu, adakah orang yang tidak akan tergoda dengan wajahku ini ?”

(Suaminya) berkata : “Ya, ada”.

Kemudian wanita itu pun berkata : “Siapakah dia ?”. “Ubaid bin ‘Umair”.

Wanita itu pun berkata : “Kalau begitu, izinkan aku untk bisa menggodanya”. Lalu suaminya berkata : “Sungguh, aku telah mengizinkanmu (untuk menggodanya)”

Maka datanglah wanita itu untuk menemui ‘Ubaid bin ‘Umair yang berpura-pura hendak meminta fatwa. ‘Ubaid berduaan saja dngan wanita itu di salah satu sisi Masjidil Haram, wanita tersebut kemudian membuka penutup wajah serta menampakkan wajahnya yang cantik jelita dan bagaikan bulan purnama di hadapan ‘Ubaid bin ‘Umair.[/nextpage]

[nextpage title=”2″ ]Maka ‘Ubaid pun berkata (karena kaget) : “Wahai hamba Allah !” Wanita itu berkata : “Sungguh aku telah tergoda kepadamu, maka perhatikanlah kebutuhanku”.

‘Ubaid berkata : “Aku hendak bertanya kepadamu tentang sesuatu, apabila engkau jujur, niscaya akan kupenuhi keinginanmu”.

Wanita itu berkata : “Tidaklah engkau bertanya kepadaku tentang sesuatu melainkan akan kujawab dngn jujur”

‘Ubaid berkata : “Beritahukanlah kepadaku, seandainya Malaikat Maut telah datang utk mencabut nyawamu, akankah engkau suka apabila aku memenuhi kebutuhanmu ini ?”

Wanita itu menjawab : “Tentu tidak”.

‘Ubaid berkata : “Engkau benar”

‘Ubaid lalu berkata : “Andaikan engkau telah dimasukkan ke dalam kuburmu, kemudian engkau telah didudukkan untuk menjawab pertanyaan (dua malaikat), apakah engkau suka bila aku memenuhi kebutuhanmu ini ?”.

Wanita itu menjawab : “Tentu tidak”.

‘Ubaid berkata : “Engkau benar”

‘Ubaid berkata : “Andaikan semua manusia telah diberikan buku catatan amalan mereka, sementara engkau tidak mengetahui apakah nanti akan menerima buku catatan amalmu dengan tangan kananmu ataukah dengan tangan kirimu, akankah engkau suka apabila aku memenuhi kebutuhanmu ini ?”

Wanita itu menjawab : “Tentu tidak”.

‘Ubaid berkata : “Engkau benar”[/nextpage]

[nextpage title=”3″ ]‘Ubaid berkata : “Andaikan engkau berada pada jembatan (di atas sirath), dan engkau pun tdk tahu apakah jatuh ke dalamnya atau tidak, akankah engkau akan suka apabila aku memenuhi kebutuhanmu ini ?”

Wanita itu pun menjawab : “Tentu tidak”. ‘Ubaid pun brkata : “Engkau benar”

‘Ubaid berkata : “Andaikan engkau berada pada waktu penimbangan amalan, kemudian engkau tidak tahu apakah timbangan amal kebaikanmu lebih berat ataukah lebih ringan, akankah engkau suka apabila aku memenuhi kebutuhanmu ini ?”:

Wanita itu menjawab : “Tentu tidak”.

‘Ubaid berkata : “Engkau benar”

‘Ubaid berkata : “Andaikan engkau berdiri di hadapan Allah untk menjawab pertanyaan2, akankah engkau suka apabila aku memenuhi kebutuhanmu ini ?”

Wanita itu pun mnjawab : “Tentu tidak”.

‘Ubaid berkata : “Engkau benar”

‘Ubaid brkata kpda wanita itu : “Bertakwalah engkau kepada Allah, wahai hamba Allah !!! Sungguh, Allah telah memberikan nikmat-Nya kepadamu dan telah berbuat baik kepadamu”

Kemudian wanita tersebut pulang menemui suaminya, lalu suaminya berkata : “Apa yang telah engkau lakukan ?”

Wanita itu berkata kepada suaminya : “Engkau pahlawan dan kami pun juga pahlawan”.

Setelah peristiwa itu, wanita itu berubah total. Sehari-harinya ia hanya disibukkan dengan shalat, puasa, dan beribadah.

Sehingga, suaminya menggerutu kesal dan berkata : “Apa yang telah diperbuat ‘Ubaid bin ‘Umair terhadap istriku, dulu setiap malam istriku bagaikan pengantin baru, tapi sekarang telah berubah menjadi seorang ahli ibadah” (Dzammul Hawaa hal 265-266)

Sumber: telegram.me/najmiumar/klikmbi[/nextpage]

More From Author

Fitnah Wanita Kepada Muadzin

Nasehat Wanita Untuk Ulama

Background Latar 1 Background Latar 2 Background Latar 3 Background Latar 4

Jadwal Sholat

Memuat jadwal...

Categories

Categories